24 Januari 2011

Renunganku: My Life Begins at 29

Ga terasa dah nyampe aja di penghujung Januari, berarti dah ampir sebulan menjalani tahun 2011. Rasanya momen pergantian tahun bukan sesuatu yang spesial yang harus ditunggu-tunggu, makanya kita ga ikut ngerayain dengan pesta kembang api ataupun tiup terompet, tanpa itu semua toh tahun tetap berganti kan? Satu-satunya yang ditunggu adalah bonus akhir tahun hehehehe......
Di bulan Januari juga, aku dan hubby ngerayain ulang tahun ke-29 yang hanya terpaut 5 hari. Hubby ultah tanggal 6 Januari, sementara aku 11 Januari. Kita emang ga pernah ngadain pesta ultah, sama seperti tahun ini, ga ada kemewahan yang berlebihan cuma menikmati vienneta dan Pizza bersama keluarga dan mendapatkan ucapan selamat dari mereka. Yang bikin kita lebih bahagia adalah saat mendapatkan ucapan selamat dan doa-doa  indah dari teman-teman via sms, telpon, maupun postingan di wall fesbuk. Ga nyangka sih sebenernya, soalnya kita sengaja ga nampilin tanggal lahir di fb. Buat semua teman kami, makasih ya atas doanya..... Semoga Allah mempekenankan doa kita. Aamiin....
SMS dari seorang teman yang kuterima: “Maknya qisthi, selamat ulang tahun.... what a complete life.... Having a good husband, cute baby girl, a new house, good job, friends around.. so I wish for the rest that u want... may Allah gives u them all on the best part” membuatku terharu, dan kembali bersyukur sembari menghitung-hitung nikmat Allah yang kuterima, Alhamdulillah..... Terima Kasih ya Allah, telah memberi begitu banyak hal, semua yang terbaik untukku.
The rest that I want...... tentu saja ada, banyak malah. Aku berharap semoga kita diberi umur yang panjang untuk taat kepada-Nya, diberi kesempatan untuk memperbanyak amalan dan bertaubat atas segala dosa, dicukupkan rezeki untuk beribadah kepada-Nya, dan ditetapkan hati ini untuk selalu mengingat-Nya agar istiqamah di jalan yang diridhai-Nya. Aaamiin....
Di usia yang ke-29 ini, membuatku merenungkan kembali seluruh perjalanan hidup yang telah kutempuh, mereka-reka berapa lama lagi kesempatan hidup di dunia fana ini. Aku sadar, kita ga akan hidup selamanya, suatu saat nanti kita pasti mati untuk menjalani hidup yang “sebenarnya”. Sesungguhnya kesadaran ini terkadang membuat hatiku gentar, mengingat amalanku yang masih secuil dan dosa yang bertaburan. Setelah sempat tenggelam dalam kesedihan dan ketakutan karena baby blues syndrom, gempa+tsunami phobia, dan ketakutan-ketakutan lainnya akibat kedangkalan imananku, tapi ternyata Allah masih menerangi jalanku yang mulai terlihat suram dan menjagaku tetap “waras”.  Alhamdulillah.....
Aku bersyukur Allah telah mengingatkan hatiku yang lalai, membuatku mengkaji kembali Adz Dzariyat : 56
“Ampuni hamba yang telah lalai selama ini, ya Allah.... Ampuni hamba yang pernah sombong dan takabur pada-Mu ya Ghafur..... Berilah hamba kesembatan untuk memperbaiki diri ini, sikap dan perbuatan hamba, bantu hamba menjaga ucapan hamba agar tidak menyakiti orang lain, berilah hamba kesempatan untuk memperbaiki ibadah hamba, memperbanyak amalan hamba, dan bertaubat dari dosa yang telah hamba perbuat. Aamiin.....”
Saat ini aku masih terus berproses dalam memperbaiki diri (insya Allah), kembali menata hati agar aku bisa mencintai dengan cinta yang hakiki, aku tidak ingin cinta kepada dunia membuatku buta akan cinta kepada-Nya, mulai memperbaiki doa-doa kami kepada-Nya. Sekarang aku tidak lagi meminta untuk diberi kebahagiaan, tapi meminta ketenangan hati agar aku dapat berusaha untuk duniaku, dan beribadah untuk akhiratku, insya Allah kebahagiaan akan menyertai....
Aku juga tidak lagi hanya meminta “Ya Allah, berikanlah hamba anak yang shaleh...” karena sekarang aku sadar, anak shaleh ga datang tiba-tiba dari langit, tapi harus melewati serangkaian proses pembelajaran yang tanpa akhir, bagaimana mungkin seorang anak bisa menjadi anak shaleh bila diddidik dengan cara-cara yang tidak menggambarkan keshalehan. Karena itulah aku dan hubby bertekad untuk terus belajar, memperbaiki diri agar kami bisa menjadi orangtua yang shaleh yang layak membimbing anak-anak kami menjadi anak yang hatinya selalu terpaut pada Allah. Kini aku selalu berdoa agar Allah memberiku dan hubby kesempatan, kesehatan, kekuatan, kesabaran, dan ilmu agar kami mampu mendidik anak-anak kami menjadi anak shaleh yang memberi maslahat pada sesama Aamiin....
Sekarang aku percaya, apapun peristiwa yang terjadi pada kita, baik berupa kemudahan maupun kesulitan hidup, tersimpan ujian bagi kita. Apakah kita ingat untuk bersyukur atas nikmat yang kita terima atau malah menjadi kufur dan takabur? Sementara kesulitan yang kita alami, akankah menjadikan kita lebih tegar, tetap sabar serta tawaqal kepada Allah atau malah membuat kita larut dalam keluh kesah dan meratapi nasib yang berujung pada berburuk sangka terhadap-Nya. Astaghfirullah.......
Sungguh, begitu banyak yang telah kuminta pada Allah dan begitu banyak pula yang telah kuterima dari-Nya melebihi apa yang pernah kuharapkan, jadi bagaimana mungkin kami tidak bersyukur pada-Mu ya Rabb? Semoga kami termasuk ke dalam golongan hamba-Mu yang bersyukur. Aamiin....
Ya Rabb, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan, jika tidak meminta kepada-Mu maka pada siapa lagi kami harus mengadu? Kami hanyalah makhluk-Mu yang lemah yang senantiasa membutuhkan pertolongan dari-Mu, karena itu janganlah Kau sesatkan hati ini setelah Engkau beri petunjuk padanya. Aamiin.....

1 komentar:

  1. khairi as usual aq kan selalu lupa ultah teman2 hehehe, met milad semoga semua doa-doa dan usaha didengarkan oleh Allah..

    BalasHapus

feel free to comment :)