Cerita ini tentang hari-hari pertama Qisthi. Namanya juga kehamilan pertama, otomatis aku dan hubby belum berpengalaman dan sama sekali ga ada gambaran tentang apa yang akan kami hadapi setelah kelahiran nanti. Kita lebih concern ke pemenuhan nutrisi saat hamil, menjaga kandungan tetap sehat, memberi stimulasi pada calon bayi, memastikan dia baik-baik aja, pokoknya everything we do, we do it for the baby. Yang ada dalam pikiranku semua akan baik-baik aja, melahirkan secara alami, IMD, ASI-X sampai 6 bulan, dst...dst... Soal perawatan bayi belum begitu terpikirkan karena kita mikirnya kan ntar ada mama, toh mama udah pengalaman jadi dia bisa ngasih tau kita mesti ngapain aja.
Tapi kenyataannya ga seperti yang diharapkan. Pertama, aku ga bisa melahirka secara alami hiks...hiks... sedih deh! Tapi gapapa, yang penting aku dan bayiku sehat. Alhamdulillah..... Terus, IMD juga ga ada, emang masih agak susah IMD di Padang, ga seperti di kota-kota lain dimana tenaga medisnya udah tau banget pentingnya IMD buat ibu dan anak. Untung di RS tempatku bersalin, ga ada promosi susu formula, jadinya beberapa saat setelah kembali ke ruang perawatan, aku sudah diperkenankan menyusui bayiku. Ga bisa diungkapkan bagaimana perasaanku saat itu, haru dan bahagiaaaaaaaaaa banget, masih agak-agak ga percaya kalo udah jadi ibu xixixixi..... Meskipun belum boleh banyak gerak alhamdulillah aku bisa menyusui anakku sambil berbaring. Melihatnya terlelap di sampingku, mendekapnya, menciumnya, subhanallah....... entah perasaan apa yang membucah di dalam dada, tak tergantikan oleh apapun. Rasanya rela kuberikan apapun untuk kebahagiaannya. Aah..... ternyata begini rasanya jadi ibu :)
Sempat di hari kedua kelahirannya, Qisthi menangis terus menerus sepanjang malam, sampai kita terpaksa membangunkan perawat di tengah malam karena bingung ga tau lagi apa yang harus dilakukan. Lebih panik lagi saat si perawat nanya, “ada susu formula ga? Mungkin bayinya ga kenyang” Haduh...kemana harus nyari sufor jam 2 malam? Kita emang ga nyetok sufor karena optimis ASI ku bisa keluar. Untungnya pas dicek sama perawat, ternyata ASI ku ada, cuma mungkin belum lancar keluarnya. Setelah dipijat, coba lagi ngasih ke Qisthi, alhamdulillah keluarnya lancar dan mencukupi, jadi nyenyak tidurnya. Aku dan hubby ga pernah absen membangunkannya tiap 2 jam untuk minum, karena aku ingat temanku menyarankan untuk rajin-rajin menyusui biar bayi ga kuning.
Hari Rabu, aku dah diizinkan pulang, hubby dah mulai ngantor sejak senin. Ga sabar rasanya nunggu hubby jemput habis makan siang. Perawatnya bilang kalo kita mesti nunggu DSA (Dokter Spesialis Anak) dulu untuk check up terakhir Qisthi sebelum pulang. Jam satuan, DSA nya masuk, setelah meriksa-meriksa sebentar dia langsung heboh katanya Qisthi kuning, udah sampai ke kaki harus segera disinar, dia langsung memerintahkan perawat untuk membawa Qisthi ke couvis. What??? Aku masih bengong, ga ngerti kenapa si DSA heboh. Sinar??? Sinar apaan??? Couvis??? Tolong dong, ada yang ngasih tau aku, ini sebenernya ada apa? What's wrong with my baby girl? Sumpah, sedikitpun aku ga ngerti apa yang diomongin ama DSA yang panik itu. Dia menjelaskan dengan tergesa-gesa, dengan bahasa yang tidak kupahami dan kecepatan tinggi, menyuruh perawat membawa Qisthi “entah kemana” dengan heboh, dan langsung berlalu dari kamarku. Kalo di pilem-pilem nih, kedatangannya bagaikan angin badai yang melanda dengan tiba-tiba, dan kepergiannyapun seperti seperti badai yang telah berlalu, menyisakan keheningan yang porak poranda. Hanya sedikit yang bisa kupahami dari penjelasannya yang nyaris tanpa jeda.
Pertama, anakku kuning. (dalam hati masih bertanya-tanya kenapa bisa kuning ya? Padahal kan udah disusui tiap dua jam, kata temanku kuning itu akibat kurang minum) udah bilang ke DSA nya, biarkan kita pulang, biar dijemur di rumah dan disusi terus tapi katanya ga cukup dengan sinar matahari dan ASI aja. Kenapa? Ga dijelasin tuh kenapanya.
Kedua, anakku harus dipindahkan ke ruang khusus (belakangan aku tau namanya couvis, ruang steril khusus untuk bayi bermasalah, kalo masalahnya dah berat baru masuk NICU)
Ketiga, anakku harus disinar. Sinar apaan aku juga ga tau, belakangan baru tau kalo namanya bluelight therapy.
Waktu itu, di kamarku ada mama, Hasna, dan teman kantor lama yang sedang menengok Qisthi. Setelah DSA dan perawat itu pergi, kita semua terdiam, shock aja. Gimana ga shock, kita yang tadinya dah seneng, dah berkemas mau pulang, tinggal nunggu Qisthi check up terakhir malah harus masuk couvis. Mama sampai ga bisa ngomong apa-apa saking kagetnya, akhirnya nanya ke Hasna kuning tu kenapa? Sinar tu diapain? Artinya apa? Apa Qisthi baik-baik aja? Dari penjelasan Hasna, sepertinya kuning tu keadaan biasa pada bayi baru lahir karena kadar bilirubin yang masih tinggi. Tapi ngeliat reaksi dokter yang panik tadi, aku jadi agak meragukan keterangan Hasna, apa bener biasa aja kok DSA nya panik banget? Dengan perasaan cemas, kutelpon hubby mengabarkan kondisi Qisthi, pas lagi nelpon perawat masuk ke kamar, grasak-grusuk mau jemput Qisthi. Kaget dong, ini ada apaan lagi? Ternyata mereka mau bawa Qisthi ke couvis, Qisthi dah dalam gendongan salah satunya, katanya aku harus ngikutin mereka ke couvis. Mama dan Hasna bengong, aku bengong bentar tapi langsung ngikutin perawat itu dengan pakaian seadanya, blus, kain batik, dan sendal jepit. Ternyata tempatnya jauh dari ruanganku di rawat, kita ngelewatin koridor yang panjang untuk sampai ke sana, ada mungkin 300-an meter. Saat itu, ga terasa sakit apapun lagi padahal baru 4 hari pasca operasi, baru 2 hari buka kateter dan mulai jalan, tapi saat itu aku bisa berjalan normal dengan kecepatan maksimum mengiringi langkah kedua perawat itu. Hebatnya lagi, ga ada rasa sakit sedikitpun. Allah memang Maha Besar, begitu sempurna Dia menciptakan makhluk-Nya yang bernama manusia, seorang wanita....
Pas Qisthi udah masuk ruangan, perasaanku sediiiih banget, mata udah mulai berkaca-kaca dan akhirnya satu per satu air mata mulai mengalir. Sedih, cemas, khawatir semua jadi satu karena aku ga tau apa yang sebenarnya terjadi pada anakku, untungnya ada seorang perawat di sana yang menenangkanku, dia juga sedang menunggui anak adiknya yang kasusnya sama seperti Qisthi. Saat perasaanku mulai tenang, baru aku bisa memperhatikan keadaan sekitar dan membuatku kembali bersyukur pada Allah. Di ruangan itu, banyak bayi lain yang dirawat sebelum Qisthi, kalau dibandingkan dengan bayi-bayi lain, kondisi Qisthi amat sangat sehat dan sempurna, sedangkan yang lain.... Ya Allah rasanya ga sanggup melihatnya, tapi ibu-ibu dari bayi-bayi itu benar-benar tegar dan tabah. Tak ada airmata, tak ada keluhan, semua menemani anaknya dengan penuh kasih meski dari wajahnya tergambar keletihan. Baru aku tau, kalo para ibu itu berada di sana untuk menenangkan bayinya saat menangis, memberi ASI saat sang anak kehausan, mengganti popok, sementara mereka sendiri tidur di teras di depan ruang perawatan dan mandi di kamar mandi umum RS, berharap sang anak dapat segera pulang karena semakin lama berada di sana tentu semakin mahal pula biayanya. sementara aku, alhamdulillah masih bisa menginap di ruang perawatan VIP, tidak perlu memikirkan biaya pengobatan karena semua ditanggung kantor. Ya Allah.... bersyukur dan kembali bersyukur kami pada-Mu, semoga dengan semua kemudahan ini tidak menjadikan kami kufur akan nikmat-Mu ya Rabb..
Menjelang sore, dokter resident anak (dokter yang lagi ambil Spesialis Anak) di sana mengatakan kalo Qisthi harus ambil darah untuk tes kadar bilirubin padahal DSA yang masuk tadi siang bilang ga perlu tes darah langsung minta disinar aja tapi residennya ngotot katanya prosedurnya emang begitu. Ya udah kita ngalah, cuma aku ga berani ngeliat pas Qisthi diambil darahnya, kata hubby dua kali Qisthi ditusuk jarum karena yang pertama ga berhasil. Setelah ngeliat ga ada yang bisa dilakukan disana, aku kembali ke ruangan tempatku dirawat. Mandi, bersih-bersih, ruangan terasa kosong, kayak ada yang hilang gitu. Ga terasa air mataku jatuh lagi, mengalir terus tanpa henti ngebayangin Qisthi, rasanya bener-bener kosong tanpa kehadirannya. Hubby yang kukira cukup tegar, ternyata nangis juga di belakangku, mama dan ayah juga, pokoknya suasana yang ceria sejak kelahiran Qisthi berubah jadi muram. Akhirnya setelah dinasihati mama, kuhapus air mataku, mencoba menahan sekuat mungkin semua perasaan sedih. Bener kata mama, aku harus kuat, aku harus sehat, karena Qisthi membutuhkanku, tiap 2 jam aku sudah harus berada di sana untuk menyusuinya.
Habis maghrib, aku dan hubby ke couvis untuk melihat Qisthi tapi cuma aku yang boleh masuk ke ruangan, anggota keluarga lain harus menunggu di luar termasuk hubby. Meskipun aku bertekad untuk tetap tegar ternyata luruh juga saat melihat bekas suntikan di kedua lengannya, air mataku kembali jatuh, nangis lagi deh...tapi pas ngeliat ibu-ibu yang lain, langsung kuhapus airmataku. Mereka aja bisa tegar, masa aku engga? Aku ga boleh nangis di dekat Qisthi, dia pasti kuat. Akhirnya malam itu Qisthi mulai disinar alias dapat blue light therapy karena kadar bilirubinnya 17. Sempat kepikiran mau moto Qisthi pas sedang disinar tapi ga tega, segan juga sama ibu-ibu yang lain soalnya kesannya jadi gimanaaa gitu. Selama 2 hari 2 malam aku dan hubby bolak-balik ke couvis tiap 2 jam, bahkan di tengah malam untuk menyusuinya dan mengantar ASIP buat jaga-jaga kalau-kalau saat aku belum datang dia sudah kehausan, aku sampai pasang alarm di HP biar ga kelewat. Selama itu juga hubby dengan setia mendorongku pake kursi roda ke couvis, ga kuat kalo harus bolak-balik jalan kaki kesana, takut jahitan bekas operasiku nyeri. Hubby juga yang selalu mengingatkan agar aku tetap kuat, tetap semangat, dan tetap tersenyum. Seperti umumnya bayi kuning, Qisthi selalu mengantuk, aku membutuhkan waktu sampai lebih dari setengah jam untuk membangunkannya agar ia mau minum, sering airmataku menetes saat membangunkannya sementara ia terus tertidur. Segala cara kulakukan agar ia cepat bangun, mulai dari membuka bedongnya, menggelitiki telapak kakinya, menciumi pipi dan badannya, sambil membujuknya “ayo bangun sayang, ini ibu nak.....”
“Qisthi...... ibu datang nak, ayo buka matanya sayang.......”
seringnya ia cuma mengeliat dan tidur lagi, tapi aku terus berusaha membangunkannya. Saat dia minum, tak lupa kubisikkan doa, zdikir, dan Al Fatihah di telinganya, kukatakan padanya “Qisthi cepat sembuh ya, biar kita bisa pulang. Kita semua merindukan Qisthi. Ayah, Ibu, Oma, Abo, aunty Fitri, dan tante Hasna semua sayang Qisthi”
Setelah disinar selama 12 jam, pada kamis pagi itu, residen di sana mengatakan kalo Qisthi masih harus disinar lagi, mereka juga belum menemukan penyebabnya karena dia tidak kurang minum, tidak ada infeksi, tidak ada kelainan pada organ hati dan ginjalnya, ga ada perbedaan rhesus, jadi mereka menyarankan untuk dilakukan tes darah lagi untuk melihat kemungkinan ketidakcocokan golongan darahku dan Qisthi. Sumpah, rasanya saat itu pengen banget kutinju wajah innocent residen di depanku. Dengan emosi kukatakan “ambil darah lagi? Bukannya kemaren udah?” si residen cuma jawab “ya kemaren itu tes untuk mengetahui kadar bilirubinnya bu, kalo sekarang melihat ketidakcocokan dengan goloran darah ibu” aku komplain kenapa ga sekalian aja tesnya kemaren, katanya karena goloran darahku B, biasanya ga masalah tapi siapa tau emang ada kemungkinan kecil, akhirnya aku terpaksa ngalah, darahku dan Qisthi diambil untuk dites, aku terus berdoa semoga hasilnya negatif, karena kalo ga, Qisthi terpaksa harus transfusi darah kayak yang baru terjadi ama anaknya Nirina Zubir. Alhamdulillah doaku terkabul.
Udah dua kali Qisthi ambil darah tapi sampai kamis siang belum ada penjelasan apapun dari residen yang merawatnya. DSA yang meriksa kemaren juga belum datang, akhirnya siang itu kukatan pada salah satu residen kalo aku minta penjelasan atas kondisi anakku, menurutnya yang berhak menjelaskan itu chief residennya, karena dia yang bertanggung jawab atas perawatan di couvis ini. Sayangnya si chief sibuk sekali (sok sibuk sih kalo menurut pikiranku yang suudzon), setelah dia ga terlalu sibuk kucoba ke ruangannya tapi dua kali ditolak karena dia mau makan siang, trus mau shalat. Balik lagi ke sana abis ashar, eh ditolak lagi karena katanya dia belum istirahat dan mau shalat ashar, ya udah nungguin lagi ternyata dia langsung visite bersama anggota residennya dan itu ga boleh diinterupsi, abis visite langsung aku cegat tapi dia keburu kabur ga tau kemana. Sampai disini rasanya oksigen kesabaranku udah menipis. Kudatangi seorang residen dan kutanyakan tentang kondisi Qisthi, sebenernya dia sakit apa sih? Aku masih ga paham ama kuning dan sinar itu tapi jawabannya tetap sama kalo chiefnya yang harus memberi penjelesan, akhirnya aku ngamuk di sana. Kukatakan padanya kalo aku ga peduli ama chief atau apalah, aku butuh penjelasan tentang kondisi anakku, dua kali ambil darah tanpa ada penjelasan, aku tau hasilnya cuma dari petugas labor, berkali-kali ditolak ama chief dodol itu (dalam hati ngedumel belum jadi DSA aja dah sombong, besok kalo dah jadi DSA ga kebanyang deh songongnya....) ya Alah, dosa ya ngedumel kayak gitu? Tapi aku bener-bener kesal. Residen yang kutanyai mengatakan kalo mereka masih belum tau penyebab kuningnya Qisthi. Namanya juga orang dah emosi tingkat tinggi, akhirnya kukatakan padanya kalo aku mau bawa pulang anakku, udah 2 hari cuma jadi bahan ekperimen, apa karena RS pemerintah jadi layanan kayak gini, dst...dst... Akhirnya aku diantar ketemu ama chief residen yang satu lagi, namanya Dr. Andi dan alhamdulillah dia bisa memberikan penjelasan yang menenangkan aku dan suamiku meski sebenarnya dia baru menggantikan shiftnya chief sok sibuk tadi. Dari hasil resume yang dibacanya, dijelaskan kalo emang bener sampai sekarang mereka belum tau apa penyebab kuningnya Qisthi yang dalam bahasa kedokterannya disebut Jaundice. Dia juga menjelaskan tentang hasil tes yang telah dilakukan, dan bersyukur ga ada kelainan pada anakku, selain itu mereka juga membagi kuning itu dalam grade-grade. Jadi kalo kuningnya dari kepala sampe leher, grade 1, sampe pinggang grade 2, sedangkan kalo sampai kaki udah grade 3. Saat masuk kemaren Qisthi grade 3 dan setelah dilakukan penyinaran berkurang jadi grade 2, itu artinya penyinaran itu emang ada manfaatnya untuk memecah bilirubin dalam darah karena kalo cuma mengandalkan sinar matahari pagi ga akan secepat itu perubahannya (hal ini menjawab pertanyaanku tentang manfaat sinar itu).
Mengenai rencanaku yang mau membawa pulang Qisthi, dia memperbolehkan tapi itu namanya pulang paksa dan kita diharuskan mengisi surat pernyataan ga akan menuntut pihak RS kalo setelah itu terjadi apa-apa. Dia juga menjelaskan risiko yang mungkin kami hadapi kalo tetap ngotot membawa Qisthi pulang. Pertama, kadar bilirubin Qisthi yang udah 17 itu emang tergolong tinggi karena itu dilakukan bluelight therapy untuk memecahnya. Kedua, sampai hari ini ga diketahui penyebab jaundicenya, jadi kemungkinan terakhir Qisthi mengalami Breastmilk Jaundice, suatu kondisi dimana ASI yang diminum ternyata ditolak oleh tubuhnya karena dianggap musuh. Kalo memang ternyata breastmilk jaundice, dikhawatirkan saat aku membawa Qisthi pulang dan tetap memberinya ASI maka kadar bilirubinnya akan terus bertambah, dan kalo kadar bilirubinnya diatas 20 bisa menyerang sistem syaraf pusat yang akan menyebabkan kelumpuhan permanen. Dia juga tidak menyarankan pemberian sufor karena ASI tetap yang terbaik untuk bayi, makanya dia menganjurkanku untuk terus menyusui dan diberikan bluelight therapy pada Qisthi agar tubuhnya bisa beradaptasi denganASI-ku. Selain itu, dia juga menceritakan pengalaman pribadinya saat anak pertamanya juga mengalami jaundice dan harus disinar selama seminggu. Well, dari penjelasannya yang menyejukkan hati dan menenangkan jiwa, aku dan hubby memutuskan untuk membiarkan Qisthi dirawat di sana sampai dia diperbolehkan pulang. Jumat pagi, ibu mertuaku datang dari Duri dan yang lebih membahagiakan lagi saat DSA visite (bukan DSA yang merujuk Qisthi untuk dirawat sih), Qisthi dinyatakan sudah boleh pulang, sepertinya Qisthi menunggu kedatangan neneknya untuk membawanya pulang. Legaaaaaaaaaa banget rasanya, apalagi pas ngeliat chief residen sok sibuk kemaren kena marah ama DSA yang galak itu hehehehe......
![]() |
| foto ini yang bikin kita nangis tiap kali liat HP |
Sekarang aku sadar kalo semua ketidak stabilan emosi yang dialami saat itu akibat ketidak tahuan tentang kondisi yang harus dihapapi pasca kelahiran, kan ga selamanya semua berjalan mulus sesuai rencana dan persangkaan kita. Sebenarnya jaundice itu emang sering terjadi pada bayi yang baru lahir tapi karena ga punya pengetahuan tentang itu jadinya kelabakan. Semoga kejadian ini bisa menjadikan kita lebih baik lagi, dan semoga aja DSA dan chief residen yang nyebelin itu bisa bekerja dengan lebih baik lagi. Kali ini doaku tulus untuk kedua orang itu karena bagaimanapun juga mereka telah melakukan tugasnya dengan baik untuk kesehatan Qisthi, walaupun caranya agak kurang menyenangkan. Semoga aja dengan bertambahnya ilmu dan pengalaman, si chief jadi makin bijaksana dan ga songong lagi, semoga lebih banyak DSA yang seperti dr. Andi itu, aamiin....
| satu-satunya foto yang sempat diambil hubby dari luar jendela couvis |
| menjemur Qisthi tiap pagi menjadi rutinitas kami setelah dia pulang dari RS |

struggles that consume energy and thoughts, praise and thank the Lord is still with us...
BalasHapus