15 Maret 2013

When I See You Smile - pinjem lirik lagunya "Bad English"

how I love these smile... @Qisthi&Alanna




Sometimes I wanna give up, I wanna give in
I wanna quit the fight
and then I see you, baby.....
and everything's alright

When I see you smile
I can face the world
You know I can do anything
When I see you smile at me :)

*edisi antigalau

13 Maret 2013

Sate Ayam


Dalam rangka mendukung kegiatan masak-memasak yang baru saya tekuni dengan serius, maka saya memutuskan untuk mendokumentasikan resep-resep yang pernah saya coba jadi kapan-kapan pengen bikin lagi atau kalo ada yang nanya gimana cara bikin makanan seenak yang saya bikin (ge er banget ya?) kan saya ga perlu bingung lagi, tinggal liat di sini. Jadi kan ga ribet, ga seperti mama kalo saya tanya bumbu rendang itu apa aja paling dijawab cabe kira2, ketumbar secukupnya, jahe kira2 aja tergantung banyak daging yang mau direndang, yaaah pokoknya semuanya pake perasaan ga ada takarannya jadi kalo saya atau adik-adik mau bikin pasti rasanya ga seenak masakan mama. Nah besok-besok kalo saya masak menu warisan generasi mama, saya akan menakar bumbu ala feelingnya mama, mencatat, dan mempostingnya di sini.

 Oiya, syarat sebuah resep yang layak untuk saya posting adalah yang pernah saya coba dengan hasil dan rasa masakan yang tidak mengecewakan (kalo gagal ya malu-maluin dong dipajang hehehe…)

Kalo dihitung dari awal tahun 2013, udah dua kali saya dan mama merancang (dan memasak tentunya) menu sate ayam. Yang pertama kali dibuat dalam rangka syukuran ulang tahun saya dan Abenk yang cuma selisih 5 hari, yang kedua seminggu yang lalu. Ini sih resepnya sederhana banget, tapi rasanyaaaa ga sesederhana resepnya lho. Untuk kuah kacangnya, saya pakai yang praktis dengan menggunakan sambel pecel siap pakai. Tinggal diseduh air panas, trus icip-icip dan sesuaikan tingkat kepedasannya dengan selera. Praktis kan? Ini dia resep satenya.


Sate Ayam
Bahan-bahan:
  • 2 buah dada ayam (di rumah favoritnya dada ayam, kalo paha sepi peminat)
  • 1 sdm merica halus
  • 5 siung bawang putih, haluskan
  • ½ sdt ketumbar
  • ½ sdt garam
  • Kecap manis sesuai selera
  • Bawang goreng secukupnya
  • 2 sdm minyak sayur
  • Bumbu pecel siap pakai
  • Tusuk sate
  • Arang untuk membakar
Cara membuat:
  •  Cuci bersih daging ayam, pisahkan dari tulangnya, potong dadu 1x1 cm
  •  Lumuri daging ayam dengan merica, bawang putih, ketumbar, garam dan kecap. Diamkan beberapa saat (bisa disimpan di dalam kulkas)
  • Campur bawang goreng dengan minyak dan kecap, aduk rata
  •  Susun daging ayam di tusuk sate, bakar di atas bara sampai matang
  • Olesi dengan campuran bawang goreng, bakar lagi sebentar sampai harum, angkat.
  • Seduh bumbu pecel dengan air hangat, aduk rata.

Waktu itu sih kami makan satenya pakai nasi, kayaknya sih lebih mantap kalo makan sate pake lontong ya. Berhubung udah ga sabar makan sate, jadi lontongnya di khayalan saja. Saya punya resep lontong praktis dari mama, masaknya gampang, ga pake ribet, tinggal colokin rice cooker / magic com aja. Kalo versi mama saya sih namanya lontong aru-aru (bhs. Minang, artinya aduk-aduk) ini dia cara bikinnya:

  •  Beras dan air dengan perbandingan 1 : 4. Kalo saya pake ukuran canting / tekong (kaleng susu kental manis) jadi kalo berasnya 1 canting, airnya 4 canting gitu. Masukkan air dan beras (yang sudah dicuci) ke dalam rice cooker / magic com.
  • Begitu nasi masak, segera masukkan air kapur sirih (1/2 sdt kapur sirih + 50 ml air), aduk-aduk sampai rata
  • Pindahkan nasi ke talam, bisa juga memakai loyang persegi,  ratakan (seperti membuat kue talam)
  • Setelah dingin, potong-potong.


Resolusi 2013

Berhubung sekarang masih awal tahun 2013, masih boleh dong ngomongin soal resolusi di tahun ini, masih relevan lah ya (maksa deh...) Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan hidup hingga saat ini, saat dimana saya dan abenk sampai di usia 31 tahun. tentu saja kami berharap semua kebaikan dilimpahkan Allah bagi diri kami, keluarga kami, dan kehidupan panjang kami nanti. Semoga kami termasuk ke dalam golongan orang-orang yang selalu bersyukur. Aamiin ya Allah...

Nah…. Pagi-pagi di awal Januari waktu kami lagi nonton TV ada tuh liputan tentang kue-kue yang happening selama tahun 2013, salah satunya adalah Rainbow Cake. Abenk kayaknya ngiler banget sama kue ini, dia penasaran pengen tau gimana rasanya. Entah kenapa saya langsung semangat mau bikin si renbo yang disambut dengan tatapan tak percaya dari sang suami. Hmmm….hmmm…meragukan diriku ya? Baiklah suamiku, akan kubuktikan kehebatanku whuahahaha….. Apa susahnya sih bikin renbo keik itu? Cuma kue yang dikasih warna-warni doang kan ya?

Berhubung saya orangnya unplanned, jadinya hari itu memang ada niat mo bikin si renbo tapi jangan ditanya kapan soalnya tergantung mood. Pada akhirnya saya memang berhasil menyelesaikan si renbo bertepatan dengan adzan maghrib. Kue ini dibuat dengan penuh perjuangan, berdasarkan teori dodol saya kalo renbo itu cuma adonan kue biasa yang dikasih warna pelangi. So, terpilihlah resep kue jadul mama saya. Satu adonan dibagi 2 dan dikasih warna berbeda, saya buat 3 adonan jadi totalnya ada 6 warna tuh, berhubung oven listrik di rumah Cuma satu ya memanggangnya satu persatu makanya lamaaaaaa banget baru kelar, belum termasuk interupsi dari Qisthi, Alanna yang minta ASI, dan perut yang minta diisi hehehehe…. Soal rasa gimana? Enaaaak dong, kan saya yang bikin (gak boleh protes ya) sayangnya buttercream yang saya buat terlalu manis jadi kurang asik deh. Overall, rasanya enak kok. 

Pembuatan rainbow cake itu akhirnya menjadi titik balik saya dalam mengisi lembaran baru di tahun ini (ceilaaaaa bahasa saya puitis ya?) ga tau dapat wangsit darimana akhirnya saya bikin resolusi untuk memasak (cemilan) setiap week end yang tentu saja langsung dicemooh oleh adik saya si Hasna tralala. Entah karena merasa tertantang atas cemoohan si Hasna tapi bener lho tiap week end saya jadi rajin memasak kue, sibuk googling resep karena lebih praktis kan daripada harus membolak-balik tabloid dan majalah resep di rumah. Website favorit saya tentu saja www.sajiansedap.com
 
Meski saya mendadak rajin, si Hasna tetap optimis kalau kegiatan masak-memasak saya akan berakhir dalam satu bulan. Tentu saja saya jadi tertantang (well…we’ll see) apalagi Abenk juga bilang pengennya saya ga hanya masak “cemilan” tapi meningkat ke menu masakan sehari-hari. Akankah saya berhasil menaklukkan tantangan ini? Jeng…jeng…jeeeeeeeng……..

Saya bukannya ga bisa masak, saya juga bukannya ga pernah masak ya buat Abenk. cumaaa….selama ini saya tuh malas banget masak (kecuali pas week end), apalagi ada mama yang amat sangat bisa diandalkan hehehe…, ga ada lauk tinggal bawa rantangan dari rumah mama. Ini nih efek negatif (atau positif ya)  kalo tinggal di rumah yang berdekatan dengan rumah mama (alasaaaan). Allah itu memang Maha Mendengar ya, dan Dia mendengar do’a Abenk sekaligus memberikan kesempatan kepada saya untuk membuktikan eksistensi diri sebagai calon peserta master chef entah tahun berapa. Awal Februari saya pindah tugas ke Divisi Audit di kantor saya. Implikasinya tentu saja saya akan sering keluar kota, dengan volume pekerjaan yang lebih padat jadi  ga mungkin dong saya tinggalkan Abenk dan anak-anak tanpa makanan. Maka, sayapun bertekad melaksanakan resolusi saya: Memasak! Bukan cuma cemilan tapi juga menu sehari-hari. Semangaaaaaaat!

Catatan: sepertinya saya harus menambahkan satu aktivitas lagi dalam resolusi saya: posting di blog : )

01 Maret 2013

Aghnia Alanna Winaldi


lahir di Padang,11 September 2012, SC, 3.70 kg / 49 cm

Alhamdulillahirabbil’aalamiin…
Akhirnya ibu bisa melihatmu, mendengar tangismu, dan memelukmu untuk pertama kalinya pada hari Selasa, 11 September 2012 (24 Syawal 1433 H) pukul 17.00 WIB di RSIA Siti Hawa, Padang. Sembilan bulan yang berat yang ibu lalui saat mengandungmu seakan sirna saat engkau berada dalam dekapan ibu. Hilang sudah semua letih, yang ada hanya bahagia….. Bahagia menyambut hadirmu yang semakin melengkapi keluarga kita.

Aghnia Alanna Winaldi

Alanna adalah nama yang telah ayah dan ibu pilihkan untukmu, didalamnya terangkum do’a kami untukmu, anakku tercinta. Sama seperti kakakmu, Qisthi, yang namanya diambil dari salah satu asmaul husna (al Muqsith – Maha Adil) demikian pula dengan namamu yang berasal dari kata al Ghaniy – Maha Kaya, sebuah kata yang mengandung doa kami agar engkau menjadi orang yang kaya. Bukan hanya kaya harta, namun juga kaya hati, kaya ilmu, yang dilandasi dengan iman.

Bersyukurlah dirimu yang terlahir sebagai muslim, nak. Maka jagalah agamamu, imanmu, dan tinggikanlah derajatmu dengan berilmu sehingga kekayaanmu dapat membawa kemaslahatan dimanapun engkau berada. Akan ada banyak harta yang bisa engkau pergunakan untuk berjihad di jalan Allah, pun dengan pengetahuan yang bisa engkau ajarkan kepada sesama sebagai bekal hidupmu di akhirat nanti.

Alanna yang secara harfiah berarti "Kami (Allah) melembutkan (hatinya)" merupakan doa ayah dan ibu agar engkau memiliki kelembutan hati yang akan mengantarkanmu menjadi pribadi yang peka terhadap lingkungan sosial. Semoga engkau menjadi muslimah yang anggun dengan segala kerendahan hati atas semua kelebihan yang telah dianugerahkan Allah kepadamu.

Jadilah muslimah yang kaya, anakku....
dan dengan segala kebaikan yang melekat pada pribadimu, semoga menjadikanmu seorang khalifah yang selalu menegakkan nilai-nilai Islam di bumi Allah ini. Doa ayah dan ibu senantiasa menyertaimu.

lot of love for you, Alanna....

26 Februari 2013

Bronkoskopi Qisthi - Cukup Sekali Ini Saja, Ya Allah....


sumber: http://www.webmd.boots.com/a-to-z-guides/bronchoscopy
Gimana rasanya punya anak batita? Menyenangkan, tentu. Adaaaa saja ulahnya yang bikin kita jadi senyum-senyum sendiri. Susahkah menjaganya? Enggak. Enggak bener kalo ada yang bilang ngejaga batita itu gampang, apalagi ditambah seorang bayi. Tapi postingan kali ini bukanlah keluh kesah repotnya punya anak ya, tidak boleh mengeluh dalam mengasuh anak. It’s a big NO. Anak itu kan amanah, jadi bersyukurlah kita yang telah diberi Allah kepercayaan. Sebagai salah satu bentuk syukur, tugas kitalah untuk memaksimalkan semua usaha dalam menjaga amanah-Nya.

Qisthi sekarang aktif banget, bergerak kesana-kemari mengeksplorasi semua hal di sekitarnya, makanya kami sebagai orangtuanya harus ekstra aktif juga mengawasi. Lengah sedikiiiiit aja, bisa fatal akibatnya, dan ini udah pernah kami alami.

Ceritanya waktu itu masih dalam suasana lebaran, kamis malam abis maghrib masih di rumah mama, Qisthi makan kacang telur sambil bercanda dengan ayahnya. Lagi ketawa-ketawa gitu, tiba-tiba aja dia tersedak, mukanya merah banget dan kelihatan kesakitan. Entah kenapa yang ada di pikiran saya waktu itu kok kayaknya kacang telur yang dia makan masuk ke paru-paru. Setelah minum air dan segelas susu, sepertinya dia baikan tapi perasaan saya masih ga tenang. Hasna menganjurkan untuk dibawa ke UGD RS M. Djamil aja kalo emang khawatir, tapi Qisthi nangis nolak ke RS, lagian takutnya saya dikira lebay wong anaknya kelihatan baik-baik saja. 

Tapi tetap aja perasaan saya ga tenang, meski Abenk bilang jangan memikirkan hal yang tidak kita inginkan. Malam itu setiap beberapa menit saya bangun untuk mengecek keadaan Qisthi. Awalnya nafasnya ngos-ngos an meskipun sudah tidak banyak beraktifitas tapi kembali normal saat dia telah terlelap.

Esoknya, nafasnya mulai berbunyi. Qisthi tetap aktif tapi lama-lama bunyi nafasnya semakin mengganggu, makan juga ga mau. Sorenya saya bawa ke DSA dan menurut DSA-nya dia baik-baik saja. Saya kok ga yakin ya, kalo anak saya baik-baik saja. Inginnya sih begitu tapi perasaan ini ga tenang, yo weis akhirnya saya, Abenk, dan Hasna sepakat ngebawa Qisthi ke dokter THT karena setelah diperiksa Hasna kayaknya di jalan nafasnya ada yang tersumbat. Dan... benar saja, baru aja stetoskop dr. Yan Edward itu menempel di dada Qisthi, dia langsung bilang ada sesuatu di paru-parunya, langsung bikin rujukan ke UGD RS M. Djamil untuk tindakan bronkoskopi, saya memang tidak tahu pasti apa itu bronkoskopi yang saya tau ya cuma masukkin selang berkamera menuju paru-paru.

Sampai di UGD, ternyata prosedurnya tidak sesederhana yang saya kira. Untuk menjalani bronkoskopi itu Qisthi harus dibius total, yang salah satu syaratnya mesti puasa makan dan minum minimal 6 jam sebelum tindakan dilakukan. 6 jam! Bayangkan sodara-sodara, 6 jam! Lebay? Pastinya. Saya memang lebay untuk urusan anak saya. Gimana enggak, waktu itu udah jam setengah 10 malam dan Qisthi sedang minum susu uht, itu artinya kami harus menunggu 6 jam lagi, jadi sekitar jam 4 pagi. Berdasarkan keterangan DTHT tadi, operasinya harus dilakukan sesegera mungkin sebab kejadiannya sudah lebih dari 24 jam, dan besok itu hari Sabtu. Kalo ditunda lagi, berarti Senin baru dioperasi, dan sudah sangat terlambat. Masalahnya, Sabtu pagi itu sepertinya ada pertemuan atau sejenis seminar dokter-dokter THT gitu deh di luar kota soalnya beberapa dokter yang dihubungi tidak bisa manangani Qisthi. Sempat ditanya sama residen THT di sana, mau dioperasi sama dokter yang mana. Saya dan Abenk Cuma pengen Qisthi segera ditangani, kami tidak pilih-pilih dokter, asalkan dia kompeten dan available, that’s it.

So, operasinya dijadwalkan jam 4 pagi dipimpin dokter Jeki, Sp. THT. Saat harus menanda tangani Surat Pernyataan Operasi, ga bisa digambarkan bagaimana perasaan kami ketika residen THT itu menjelaskan kalau tindakan ini beresiko meninggal di meja operasi karena tim dokter bekerja di jalan nafas. Ya Allah, ingin rasanya saya bawa Qisthi pulang tapi saya tidak punya pilihan lain. kalau terjadi komplikasi yang serius di paru-parunya tentu tindakan medis yang lebih besar diperlukan, nyawa juga taruhannya.

Malam itu kami menginap di UGD tanpa persiapan apa-apa. Ayah dan mama saya yang menyusul membawakan beberapa perlengkapan Qisthi akhirnya pulang jam 1 malam karena memang tidak ada yang bisa kami lakukan sampai jadwal operasinya nanti. Saya tidak ikut pulang meski saat itu sedang hamil 9 bulan karena saya yakin tidak akan bisa tidur memikirkan Qisthi.

Benar saja, sepanjang malam saya hampir tidak tidur. Jangan ditanya bagaimana perasaan kami melewati malam itu. Saya tidak bisa menahan air mata melihat Qisthi kesakitan saat perawat menusukkan jarum infus ke tangan dan kakinya, yang berakhir dengan kegagalan. Kalau saja saya tidak ingat itu untuk kebaikannya, pasti sudah saya tonjok semua perawat itu dan saya peluk anak saya erat-erat. Perawat keempat yang mencoba memasang jarum infus (dan gagal lagi) kasihan melihat Qisthi kelelahan karena tenaganya terkuras untuk memberontak dan menangis, dia menyuruh kami membawa ke ruangan untuk beristirahat. Infusnya akan dipasang saat dia sudah dibius saja. Rasanya saya ingin menyerah, membawa Qisthi pulang karena tidak tahan melihatnya ketakutan, berteriak-teriak hingga suaranya serak menyakinkan paramedis kalau dia sudah sembuh karena tidak ingin disuntik. Berkali-kali Abenk bilang kalau saya harus kuat, jangan nangis, ingat adiknya Qisthi yang masih dalam kandungan. Saya berusaha tegar, berusaha tetap tenang meskipun saat Qisthi tertidur airmata saya langsung meleleh. Pertahanan saya runtuh saat Qisthi yang saya tahu sangat kehausan dengan suara lemah meminta air minum untuk kesekian kalinya. “Bu, titi minta air putih aja. Titi haus sekali” dalam hitungan detik wajah saya langsung banjir air mata, saya hanya bisa memeluknya. Sudah hampir jam 4 dinihari, itu artinya sudah 6 jam dia tidak minum.

Sesuai jadwal, jam 4 tim dokter sudah berkumpul, kecuali dokter anestesi yang sejak malam sudah diberitahu bakal ada operasi. Dan tahu ga, jam berapa dia muncul? 5.30 WIB. Kalau saja saya tidak sangat membutuhkan dia, pasti sudah saya cincang tu dokter. Saat perawat mengambil Qisthi dari gendongan saya menuju ruang operasi seolah dia direnggut paksa dari kami, saat pintu ruang operasi ditutup sementara teriakan Qisthi masih terdengar memanggil-manggil saya dan Abenk, saat itulah semua ketegaran kami runtuh. Kami menangis...

Kejadian ini membuat saya dan Abenk menyadari bahwa betapapun kami sangat menyayangi anak-anak kami, mereka bukanlah milik kami. Mungkin ini teguran Allah buat kami yang terlena menjadikan anak sebagai pusat semesta kami, sementara anak hanyalah titipan-Nya yang bisa diambil kapan saja Sang Pemilik menghendaki. Allah pasti cemburu dan menegur kami karena lebih mencintai makhluk-Nya dibanding Dia, Sang Khalik. Astaghfirullahaladzim.... Ampuni kami yang telah lalai, ya Allah...


Hampir empat jam kami menunggu di depan ruang operasi, semua berkumpul untuk saling menguatkan. Ayah, Mama, Hasna, dan Fitri menemani kami sambil mendoakan yang terbaik untuk Qisthi. Kami juga menerima sms dan telepon dari keluarga dan teman-teman yang memberikan semangat dan doa untuk Qisthi. Empat jam paling lama yang pernah saya lalui, alhamdulillah operasinya berjalan lancar, tim dokter berhasil mengeluarkan serpihan-serpihan kacang dari saluran paru-parunya. Ternyata Allah masih mempercayai kami untuk menjaga amanah-Nya, Dia masih memberi kami kesempatan untuk memeluk putri kecil kami lagi.Terima kasih ya Allah, sujud syukur kami kepada-Mu.
di ruang ICU setelah operasi        
setelah hampir 24 jam berpuasa, langsung lahap makannya

paling ga tahan liat ekspresinya, masih trauma sama orang asing, berpikir orang-orang itu akan menyuntiknya

mulai bosan di RS, merasa sudah sehat jadi minta pulang terus

pasca operasi, histeris tiap kali melihat para medis, menjerit-jerit menyuruh saya mengusir mereka. dr. Ismatul - teman saya yang merawat Qisthi bilang kalo Qisthi kena white coat syndrome

senang banget setelah pulang ke rumah, apalagi dapet boneka gede daro tante Ayu

Setelah Sekian Lama Ga Ngeblog - Update-an [ga] Penting


Waaah... udah bertahun-tahun (2 tahun tepatnya) saya ga update blog ini ya. Emang dasar ga niat, ga konsisten banget deh, giliran lagi rajin hampir setiap hari posting tapi kalo dikalkulasi lebih banyak malasnya deh, jadinya blog ini seperti ditelantarkan (tidak diragukan lagi)
Well yaaaaah, sebenarnya kepikiran mau bikin blog baru sih, all new. Tapi setelah dipikir-pikir lagi sepertinya saya lanjutkan aja di sini, sayang sama sejarahnya (ceileeee... serasa blog bersejarah). Meskipun kadang (seringnya) isi postingan ini cuma curhatan ga penting tapi rasanya sayang juga kalo harus dibuang begitu saja (berarti postingan ke depan bakal berisi topik mahapenting kah? Engga juga sih... )

So, what’s new? Banyak! Saking banyaknya ga tau harus mulai dari mana. Tentang kehamilan dan kelahiran anak kedua: Yup, Qisthi udah punya adik, namanya Alanna yang lahir tanggal 11 September 2012. Proses kelahirannya sama seperti sang kakak, sectio caesar. Why? Yaaa....ga kenapa-napa sih, pengen aja hehehe... Engga lah, bukan itu alasannya. Saya bahkan pengen banget merasakan persalinan normal, tapi apa daya..... 

Jadi ya, kehamilan kedua ini rasanya lebih berat dibanding yang pertama, apalagi ada beberapa masalah seperti flek, plasenta previa, dan letak bayi yang melintang dari umur kandungan 7 bulan sampe mo lahiran, Alanna betah banget melingkar begitu. Sejak usia kandungan melewati 6 bulan, aktivitas saya jadi terbatas, mo jalan susah, ganti posisi dari duduk-berdiri, berbaring-duduk itu sakiit banget, ribet lah pokoknya. 

Qisthi gimana? Alhamdulillah dia baik-baik saja, sayaaaaaaang sekali sama Alanna, jadi keki kalau kami kelamaan fokus sama Alanna dan mengabaikannya. Ada kejadian mendebarkan yang kami alami sehubungan dengan tumbuh kembangnya Qisthi, sekitar semingguan sebelum saya melahirkan Alanna tepatnya tanggal 1 September 2012 Qisthi harus menjalani bronchoscopy -memasukkan selang berkamera dari mulut menuju paru-paru (saluran bronkus) untuk melihat benda yang menyumbat saluran pernapasannya dan menyedot benda asing itu keluar.

Kalo soal kerjaan, kemaren-kemaren sih masih seperti sebelumnya, nothing special. Di bulan April 2012 saya dipindahkan ke bagian lain, masih tetap di Cabang Utama. Minggu lalu, akhirnya saya dimutasi lagi. Kali ini tidak lagi di Cabang Utama, tidak lagi berada di operasional. Saya sekarang bertugas di balik layar, di Divisi Audit Internal. Kedengaran keren ya? Xixixi..... semoga ke depannya bisa lebih baik. Aamiin....

How ‘bout Abenk? Well, he’s okay, still the most handsome guy in the house, in our home. Ga ada yang berubah sih. Kalo dulu statusnya masih pacar, lama ga update eh dah ganti status jadi suami. Sekarang tentu saja dia masih tetap suami saya (ya iyalah....emang mau punya suami berapa?) paling perubahannya dari ayah beranak satu, menjadi bapak beranak dua. Kalo dulu masih kerja sama orang, sekarang juga masih hehehe...... Abenk sekarang berwiraswasta, masih join dengan temannya. Kedepannya kami pengen bisa punya usaha sendiri, totally wiraswasta jadi bisa punya jadwal kerja yang fleksibel dengan gaji yang fleksibel juga nanjaknya, ga kenal turunan (aamiin.....semoga rezekinya lancar ya, Allah)
komposisi terbaru keluarga kecil kami

sayaaaaaang adek...

daddy's little girls

kompak selalu

love you, Alanna. jadi anak yang shaleh ya...

Ayah capek ya, sini Qisthi pangku

Qisthi ga mau jauh-jauh dari Alanna